Sastra

Cerpen Pertama

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdullillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat limpahan rahmat dan kasih sayangnya saya dapat menciptakan post pertama saya pada akun blog ini. Jujur, sebenarnya ini kali pertama bagi saya dapat menulis sesuatu untuk dibagikan ke khalayak ramai. Jadi mohon bantuannya ya bagi kakak-kakak dan abang-abang yang sudah berpengalaman dalam bidang ini.

O iya, kenapa saya milih cerpen buat dijadiin post pertama ialah karena saya itu orangnya lebih suka menciptakan karya sastra ketimbang sebuah alat ataupun trobosan yang menunjang hidup modern. tanpa berpanjang- panjang mari kita langsung saja mulai membaca cerpen buatan saya yang berjudul “That’s All About Time”

THAT’S ALL ABOUT TIME

Kala itu, ketika awan hitam tengah menumpahkan segala yang di kandungnya pada bumi.Angin pun tak mau kalah dengan lincahnya bergerak ke segala arah membantu air membuat jengkel para pejuang tugas makalah. Disebuah gedung putih, didalam ruang kelas yang sesak karena pada manusia yang bertingkah seperti layaknya balita usia 5 tahun. Kaila sedang merangkum 33 bab pelajaran IPA selama kelas 10,11, dan 12 untuk kemudian dijadikan acuan belajarnya dalam mempersiapkan Ujian Nasional. Di temani alunan lagu Monokrom karya Tulus dan secangkir kopi tuk hilangkan rasa kantuknya, Kaila sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya yang sangat merepotkan itu. Memang, ini bukan perintah dari guru maupun orang tuanya. Hal ini murni kemauannya demi mempertahankan gelar juara umum yang sudah 3 tahun ini Kaila dapatkan. Dan kali ini, dia ingin meraihnya kembali demi mendapatkan beasiswa ke Universitas impiannya yaitu Harvard University, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.

            Tinggal 1 paragraf yang harus ia selesaikan, Kaila dikejutkan dengan teriakan teman-temannya. “Woi, Pak Muchtar radius 10 meter.” Seketika mereka berlari tunggang langgang menuju bangku mereka masing-masing. Dengan cepat, Kaila meneguk kasar sisa kopi Capuchino yang tadi sempat ia acuhkan lalu menyembunyikan gelasnya dibawah kolong mejanya.

Seorang pria pendek dengan kacamata petak. Muhammad Muchtar Panjaitan, seorang mualaf yang merupakan wali kelas 12.1 yang tergolong murid jenius seperti Kaila, wajah ramah dan senyumnya yang selalu merekah tidak menjamin bahwa ia adalah seorang malaikat rahmat yang datang dengan membawa berkah dan dibarengi dengan hujan cahaya. Pak Muchtar bisa saja sangat baik bila hatinya sedang dipenuhi bunga kiriman dari Surga Firdaus, namun ketika muridnya membuat kegaduhan, maka ia akan jadi manusia paling mengerikan seantero Jagad Raya.

Ketika Pak Muchtar datang, ia sedang menuntun seorang siswa laki-laki, sepertinya dia adalah murid baru. Seketika kelas menjadi gaduh karena kehadiran siswa tampan bertubuh jakung dengan kacamata itu. “Baik anak-anak, kita kehadiran siswa baru. Jadi dia adalah saudara baru kalian, silahkan perkenalkan diri kamu” Kata Pak Muchtar pada anak itu.

Senyum yang terpancar jelas di wajah anak itu dapat mendeskripsikan segalanya. Terlihat bahwa dia adalah anak yang ramah, wajah jeniusnya juga terukir jelas dari bentuk kacamatanya yang disempurnakan oleh garis wajah teduhnya. “Siapa dia?” pikir Kaila

“Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatu” ucap siswa itu

“Wa’alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatu” balas mereka serempak

“ Perkenalkan nama saya Rangga Arya Purnama, panggilan Angga. Saya pindahan dari Pekanbaru.” Kata murid baru yang bernama Angga tersebut.

“Silahkan pilih teman sebangku mu Putra.” Kata Pak Muchtar. Untuk sepersekian detik Angga terkejut “Mohon maaf yang sebesar-besarnya pak, nama saya Angga pak, bukan Putra” kata Angga sebal.

“Ya suka-suka saya dong, lagian kan saya sukanya manggil kamu Putra. Ya udah itu berarti panggilan istimewa dari saya buat kamu.” Kata Pak Muchtar.

“Ea..” seru semua siswa yang di barengi dengan tawa yang menggelegar dari segala penjuru.

“Baiklah pak, saya akan menerimanya dengan lapang dada. Tapi yang laki-laki udah pada duduk sama laki-laki semua pak.” Kata Angga pada Pak Muchtar.

“Ya terserah kamu mau duduk dimana, mau didepan, dibelakang, samping kiri, samping kanan, ya sesuai selera. Yaudah deh kamu duduk sama Kaila aja, kebetulan gak ada yang mau duduk didepan jadi dia duduk sendirian.” Kata Pak Muchtar.

Bagai disambar kilat, Kaila terkejut bukan main dengan keputusan Pak Muchtar. “Kenapa mesti saya pak?? Kan masih banyak yang lain ” Kesalnya pada Pak Muchtar.

“Ya suka-suka saya dong, lagian saya kan Cuma suruh duduk sebangku bukan membangun mahligai rumah tangga yang indah.” Pak Muchtar memasang wajah jail yang membuat Kaila mendengus sebal. Akhirnya, keputusan akhir didapat dengan tetap mendudukkan Angga dan Kaila sebangku.

Dead Air, mungkin kalimat itulah yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang terjadi diantara Kaila dan Angga. Tiada pembicaraan yang terjadi diantara mereka berdua. Kaila sibuk dengan makalah Agama yang diberikan oleh Pak Muchtar, sedang Angga jadi canggung karena tidak enak sudah membuat mood Kaila hancur. Hingga akhirnya Angga memecah keheningan dengan membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Ehh, maaf ya karena aku kamu jadi kesel gini.” Kata Angga.

“Gapapa sih, lagian akunya juga yang berlebihan.” Kata Kaila dengan nada ketusnya. Memang, Kaila terkenal dengan sifatnya yang dingin, ketus, dan tidak mau bergaul dengan sesama.

“O iya, kita belum kenalan, Namaku Rangga Arya Purnama, biasa dipanggil Angga. Kalau kamu??” kata Angga sambil mengulurkan tangannya.

“Kaila, Nafisya Kaila Akbar.” Kata Kaila tanpa membalas uluran tangan dari Angga.

“Kamu mau ke mana??” Tanya Angga melihat Kaila beranjak dari tempat duduknya. “Mau ke perpus, emang kenapa??” Tanya Kaila.

“Aku boleh ikut ga? soalnya aku belum terlalu kenal sekolah ini, jadi harus adaptasi dulu.” Kata Angga dengan wajah cengengesan. “Boleh, tapi lo jangan nyusahin ya.” Kata Kaila. “Siap gerak bu bos!!” Kata Rangga dengan semangatnya.

Selama di perjalanan, banyak adik-adik kelas yang memperhatikan wajah tampan Angga. Mereka terpesona dengan wajah manis dibalik kacamata silinder yang dipakai oleh Angga.

“Manis banget abang itu, aku kayaknya belum pernah liat deh”

“Anak baru deh kayaknya”

“Sayang ya udah punya pacar, padahal kalau belum gua gebet tuh”

“Aihh pacarnya jutek lagi. Kan kasian abang gantengnya jadi diem-diem bae”

“Ihh, gatel banget sih jadi cewe. Kaya ga pernah aja liat cowo. Padahal kan mukanya pas-pas an, malah nyebelin lagi. Dan bisa-bisanya mereka nyandingin Angga sama aku” Bisik Kaila.

 “Ehh jangan salah, gini-gini aku juara olimpiade Matematika se-Pekanbaru loh. Aku pindah kesini karena orang tuaku pindah dinas.” Kata Angga dengan bangganya.

“Oh..” Kata Kaila. “Bagaimana bisa manusia aneh ini tau apa barusan aku katakan??” gumam Kaila yang sangat keheranan.

            Sesampainya di perpustakaan, Kaila mengambil buku yang hendak ia rangkum. Ia mengambil sekitar delapan tumpuk ensiklopedia yang berhasil membuat mata Angga membulat sempurna. “Oh my god, buat apa buku hak milik Einstein kamu ambil sebanyak ini??” Tanya Angga.

“Buat dibaca lah, kan kita mesti persiapan mau ujian. Apalagi kalau universitas yang mau kita tuju itu universitas yang terkenal bagus, pasti kita harus berjuang keras buat kesana.” Angga melihat mata Kaila berbinar saat mengucapkan kalimatnya tersebut. Angga juga menangkap seberkas senyuman indah terpancar dibalik wajah ovalnya itu.”Cantik” gumamnya dalam hati.

“Emang kamu mau lanjutin ke universitas mana??” Tanya Angga ragu-ragu. “Aku pengeeen banget ke Harvard University, disana bagus banget sekolahnya. Aku rencananya pengen ambil jurusan kedokteran.” Kata Kaila bersemangat.

“Emang kamu mau jadi dokter apa?” Tanya Angga. “Pengen jadi dokter anak” kata Kaila bersemangat

“Kenapa pengen jadi dokter anak?” Tanya Angga lagi. “Karena aku sering liat anak-anak sakit tapi orang tuanya ga mampu nanggung biaya pengobatannya.” Jawab Kaila sedih.

“Jadi?” Tanya Angga. “Hmm, Ya aku mau ngasih berobat gratis buat warga yang kurang mampu. Selain itu, aku pengen jadi dokter juga karena pengen belajar jadi seorang ibu” Kata Kaila

“Aku gak nyangka kalau kamu itu bisa tersenyum dan bersemangat saat membicarakan Harvard dan cita-citamu” Kata Angga sumringah. Menyadari sejak tadi ia sangat bersemangat membicarakan cita-citanya, ia pun merasa sangat malu dan merasa bersalah karena sejak awal sudah bersikap buruk pada Angga.

“Oh iya, Rumah kamu dimana?” kata Kaila membuka obrolan.

“Shhhtt…Jangan berisik, ini perpustakaan bukan warung kopi” kesal petugas perpustakaan.

“Perumahan Pondok Baru, Blok E nomor 10” Rangga sedikit berbisik karena takut petugas perputakaan memarahi mereka lagi.

“Berarti rumah kita searah dong, mau pulang bareng gak??” Kaila menawarkan. “Boleh kalau kamu maksa” Kata Angga dengan wajah datar yang tentu saja Kaila paham bahwa itu hanya akting.

“Demi Dewi Fortuna, kan aku gak maksa sih” gumam Kaila yang dibarengi senyum terpaksa yang dilontarkannya pada Angga.

            Saat jam pulang tiba, Kaila dan Angga pulang melewati Taman Cassablanca. Angga pun mengambil inisiatif untuk mengajak Kaila duduk ditaman tersebut.

            “Kaila, kita duduk disana yuk.” Ajak Angga. “Lah mau ngapain?” Tanya Kaila.

            “Refreshing bentar, ayolah kan disana teduh. Ada banyak Bunga melati lagi.” Serunya sambil menarik tangan Kaila menuju tempat yang dimaksud.

            Hanya meja bundar biasa yang di perindah dengan aroma melati begitu mencuat menambah ketenangan bagi siapapun yang berada disekitarnya., namun karena terbuat dari kayu pohon yang di pahat sedemikian rupa lalu di beri cat pernis membuat kesan klasik dari meja tersebut seolah memaksa seseorang untuk sekedar duduk dan tertawa riang bersama orang tersayangnya. Yap, jadi buat para jomblo, meja ini akan sangat menyiksa terlebih ketika mereka duduk sendiri tanpa sesama jomblo tuk menemani.      

Kaila sedang sibuk dengan earphonenya yang sedang memutar lagu Alone karya DJ Alan Walker ketika Angga datang dengan membawa dua gelas teh manis yang baru saja ia pesan.

            “Besok ada acara gak?” Tanya Angga. “Enggak ada, Cuma mau ngerjain beberapa tugas aja biar ga numpuk” ucap Kaila malas sambil menyeruput teh hangat miliknya.

            “Jalan-jalan yuk, ke mall yang ada di sebelah perpustakaan umum” ajak Angga. “Mau ngapain ke sana, tempat-tempat di mall itu pasti membosankan” Terlihat rasa tidak suka  dari wajah Kaila.

            “Tenang, kamu pasti suka deh.  Ikut ya… Pliiiiiissss” Angga memohon pada Kaila. “Oke, Jam 10 pagi dan ga boleh terlambat” tegas Kaila.

            “Siipp dah. Balik yuk udah mau sore nih” ajak Angga sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.

            “Hmm” Kata Kaila sambil beranjak dari tempat duduknya.

Keesokan Harinya

Sejak pukul 9 pagi, Angga sudah menunggu di depan rumah Kaila. Entah apa yang dipikirkan oleh pria yang kini sedang menunggu di teras rumah Kaila itu. Sepertinya ia sudah jadi setengah gila.

“Masih jam 9 lo Ga, kenapa udah dateng?” kesal Kaila yang sepertinya baru dari dapur karena ia masih mengenakan celemek dan daster.

“Eh, Kaila. Cantik banget kamunya pakek baju daster, yakin mau pergi pake daster” goda Angga.

“Ihh ga lucu tau, mau ngapain?? Masih 1 jam lagi Ga” Amarah Kaila makin memuncak.

“Hehehe, mau nganter ini doank kok, ntar dipake ya” kata Angga seraya memberikan bingkisan berwarna biru toska tersebut.

“Hmmm iya, Makasih Ga” kata Kaila seraya mengambil bingkisan tersebut.

“Ehh, makhluk jupiter bisa bilang Makasih” terlihat alis Angga naik turun saat mengucapkan kata-katanya..

“Pulang ga sebelum aku jadiin sop!” Kesal Kaila sambil mengancam dengan spatulanya.

“Kabuurrrr” Angga berlari secepat Kilat untuk menghindari lemparan maut yang maha dasyat itu.

Tepat jam 9 lewat 59 menit 10 detik, Angga pun tiba di rumah Kaila. “Tepat waktu” Kata Angga yang ternyata sudah mendapati Kaila menunggu didepan rumahnya dengan memakai baju gamis berwarna cokelat yang Angga antarkan tadi.

“Assalamu ‘alaikum” seru Angga di depan rumah Kaila.

“Subahanallah, cantik banget ya bidadari di khayangan” sahut Angga lagi memandangi Kaila yang masih sibuk dengan riasannya sendiri.

“Ehh.. Sejak kapan disitu?? Malah ga pake Assalamu ‘alaikum lagi” kaget Kaila sambil menyembunyikan wajah merah tomatnya akibat dipuji oleh Angga.

“Aku tiba disini jam 9 lewat 59 menit 10 detik dan ngucap salam jam 10 tepat” kata Angga sambil mempraktek kan gaya berhitung ala anak SD.

Kaila memakai baju yang diberikan oleh Angga, yaitu gamis cokelat yang dikombinasikan dengan jilbab pasminah hitam, Sangat serasi dengan penampilan Angga yang terkesan simpel , hanya baju hitam, celana jeans hitam dan jaket kulit cokelat yang di perindah dengan sepatu basket yang ia gunakan.

“Ibu Ayah kamu kemana?” Tanya Angga. “Ayah lagi temenin ibu ke pasar”

Jawab Kaila.

            “Terus Ibu ngapain?” Tanya Angga. “YA KEPASAR LAH BELANJA SAYUR BUAT BESOK” kata Kaila dengan memperlihatkan wajah sangarnya sambil mencubit lengan Angga.

            “Ya jangan marah dong, kan kamu Cuma ngasih tau kegiatan ayah doang, ibunya engga” ringis Angga kesakitan. “Ni cewe kalau nyubit sakit juga ya” pikir Angga.

            “Yuk berangkat” Ajak Angga

            “Yuk”

            Sesampainya di mall Angga mengajak Kaila untuk makan siang di sebuah restoran. “Makan dulu yuk.” Ajak Angga. “Mau makan dimana, pasti makanan sini mahal semua”

            “Engga, kan aku yang bayar. Kita makan di restoran itu aja.” Tunjuk Angga pada sebuah restoran.

            “Ya udah deh terserah kamu” jawab Kaila malas

            Setelah selesai makan, mereka pun berjalan-jalan untuk sekedar melihat-lihat Mall yang kita pasti sudah ketahui isinya itu-itu saja. “Aku bosen” kata Kaila.

            “Tenang, kita belum nyampe ke ujung” kata Angga, Kaila mendengus sebal.

            “Nah udah sampe nih” kata Angga.

            “Ini pintu keluar -_-“ kata Kaila

            “Iya, jalan aja dulu. Sekitar 20 meter didepan ada perumahan, sebenarnya kita mau kesana” kata Angga.

            “Emang mau ngapain ke perumahan itu?” Tanya Kaila

            “Ada deh, ikut aja pokoknya” seru Angga sambil menarik tangan Kaila untuk menyebrang jalan.

            Kampung Teladan, adalah sebuah perkampungan kecil di tengah sesaknya kota saat ini. Ditutupi oleh tembok tinggi dari perusahaan di sisi kiri dan kanannya membuat kampung ini tidak dapat dengan mudah dilihat. Pepohonan masih rindang dan anak-anak masih bermain bersama.

            “Ini dimana Ga?” Mata Kaila membulat tak percaya.

            “Ini namanya Kampung Teladan, salah satu paman aku tinggal disini. Aku ngajak kamu kesini karena aku pikir kamu bakalan suka. Apalagi disini kampungnya masih asri, belum terlalu terpengaruh sama budaya luar apalagi teknologi” kata Angga menjelaskan.

            “Kan kita baru kenal, kok kamu langsung bisa ngajak aku ke sini?? Semudah itu kamu percaya sama aku?” Tanya Kaila dengan heran

            “Hal itu mudah Kaila, kan kamu sahabatku” kata Angga dengan mantap.

            “Kita kan sahabat, kita harus janji lebih mementingkan sahabat dari pada yang lain kecuali orang tua, selalu jujur, setia kawan, dan lain-lain.” Lanjut Angga

“Berani?” Tantang Angga pada Kaila

“Ya aku berani” jawab Kaila

“Kamu sendiri?? Apakah bisa memegang omonganmu?” Tanya Kaila balik

“Kaila, kan aku yang membuat janji, ya pasti bisa lah” jawab Angga dengan mantap

Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah pamannya Angga. setelah menempuh jalanan yang berbatu dan becek akibat di guyur hujan semalam, akhirnya mereka pun menemukan rumah yang Angga maksud. Ya, terkesan sederhana namun jauh dari kata kotor ataupun kumuh.  Sangat sempurna apalagi rumah itu menghadap matahari tenggelam sehingga kita dapat melihat senja yang indah dengan latar yang masih asri tanpa harus pergi jauh.

“Assalamu ‘alaikum” seru Angga.

“Wa’alaikum salam, ehh Angga masuk dulu.” Sambut bibi Angga dengan ramah.

“Mana paman bi?” Tanya Angga.

“Sedang ke kebun, biasanya sebentar lagi pulang. O iya, siapa yang kamu bawa ini? Pacar kamu?”

Dapat Kaila rasakan pipinya memanas “Engga kok bi, saya Cuma temennya”.

Bibi Angga pun menggoda jahil seraya berkata “Ehh paman sama bibi juga dulu berawal dari kata temenan. Jadi hati-hati saja, kalian nanti yang awalnya “Cuma” temenan bisa tiba-tiba nyebar undangan”

“Ada apa ini ribut-ribut?” Kata seorang pria dengan tubuh gagahnya.

“Ehh paman, Assalamu ‘alaikum” Kata Angga

“Wa’alaikum salam, emang jadinya kamu mau lamaran dulu nih baru lanjutin sekolah?” Tanya paman Angga

Seketika pipi Angga langsung memerah “Kenalin paman ini sahabat baru aku, namanya Kaila” Kata Angga

Kaila pun langsung menyalami tangan pamannya Angga “Cantik, se-cantik namanya. Kamu memang mantap lah soal nyari cewe” kata paman Angga seraya berlari kecil ke kamar mandi karena takut akan emosi Angga yang sedang meledak-ledak.

“Sudahlah, pamanmu itu bercanda. Kalian abis dari mana tadi?” Tanya bibi Angga.

“Makan di mall bi” kata Kaila yang mulai ikut dalam pembicaraan

“Angga ga seru ya, ajaknya ke mall bukan ke KUA” kata paman Angga yang sepertinya baru menggunakan jurus mandi 1 menit.

“Paman, kalau ke KUA kayaknya ntaran aja deh. Tunggu Angga bisa beli mobil dulu kayaknya” Kata Angga yang diikuti tawa dari paman dan bibi Angga.

“O iya, ini ada titipan dari ibu paman. Kata ibu dimakan jangan di bagiin ke anak ayam” Kata Angga seraya menyodorkan bolu buatan ibunya.

“Siap lah, kebetulan aku sudah lapar ini” kata paman Angga

“O iya paman, kami pamit ya. Soalnya takut kesorean, Kaila belum ngerjain PR.” Kata Angga seraya menyalami tangan paman dan bibinya.

“Buru-buru banget, tapi ga apa-apa lah yang penting kalian sudah mampir” kata bibi Angga mengantar mereka ke depan

“Jagain Angga ya.. dia itu suka banget gangguin anak kecil, ngeri paman liatnya” Kata paman Angga dengan senyum menggodanya.

“Pamaan aku gak gitu ya!!” kesal Angga yang diikuti tertawaan Kaila, paman dan bibi Angga.

“Kami pamit ya paman, bibi. Assalamu ‘alaikum..” kata Kaila seraya menyalami tangan paman dan bibi Angga

“Wa’alaikum salam”

“Hati-hati ya..” kata bibi Angga

“Siap bi” sahut Angga

Sebelum pulang ke rumah, Angga sempat menemani Kaila untuk sekedar membeli buku dan beberapa novel di toko buku. Dan akhirnya mereka tiba di rumah Kaila pukul 3 sore.

“Ga masuk dulu Ga?” Tanya Kaila

“Engga” jawab Angga

“Kenapa?” Tanya Kaila

“Karena mau pulang” bisik Angga

“IHH APAAN SIH GA LUCU, GUA LEMPAR PAKE SEPATU YA LU” kesal Kaila

“Hehehe jangan marah, aku pulang dulu ya. Assalamu ‘alaikum” Sahut Angga sambil menyalami tangan Kaila layaknya kakak dan adiknya.

“Wa’alaikum salam makhluk Andromeda” kata Kaila

“Sejak kapan kamu manggil aku gitu?” Tanya Angga cengengesan

“Sejak kamu salting di rumah paman tadi, kayak makhluk dari luar galaksi” kata Kaila sambil tersenyum lebar.

“Ihh apaan sihh, kamu muka becanda ama serius sama aja” kata Angga cemberut

“Sama gimana?” Tanya Kaila.

“Sama-sama cantik” Seru Angga sebelum ia berlari dengan kecepatan kuda karena Kaila sudah bersiap untuk melemparnya dengan sepatu.

“IHH ANGGA TUH NYEBELIN” kesal Kaila sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Sebulan kemudian, mereka pun menjalankan ujian mid semester. Kaila dan Angga belajar dengan sungguh-sungguh sehingga mereka dapat menjalankan ujian dengan mudah. Seminggu kemudian, hasil ujian mid mereka pun dibagikan dan hasilnya Kaila lagi-lagi mendapat juara umum.

“Wow gila juara umum lagi, selamat ya Kai” kata Keenan, pria berkacamata min dan merupakan anggota basket sekaligus ketua kelas 12.1 yang syukur Alhamdulillah tidak suka buat onar seperti makhluk balita lainnya.

Sekilas tentang Keenan, Keenan adalah pria yang memiliki latar belakang keluarga kaya raya atau biasa makhluk bumi sebut “Anak Sultan”. Sejak kelas 10, Keenan selalu menjadi ketua kelas dan pastinya selalu sekelas dengan Kaila. Walau pria campuran Jawa-Belanda ini tergolong pria dengan ribuan fans yang siap menunggu bila ia membutuhkan, ia tetap memilih Kaila sebagai manusia pertama yang mempu membuatnya tunduk dan tidak akan berpaling pada yang lain.

“Kaila!” teriak Angga dari lantai tiga gedung sekolah mereka

“Apa?” Tanya Kaila

“Congartulation ya buat juara umumnya!!” teriak Angga lagi

Kaila hanya mengacungkan ibu jari tangannya.

“O iya satu lagi!” Kata Angga

“Apa lagi?” Tanya Kaila

“HAPPY BIRTHDAY MAKHLUK JUPITER!!” teriak Angga di barengi ia melempar taburan bunga mawar ke Arah Kaila. Kaila pun merasa sangat bahagia karena selama ini tak ada yang tahu kapan tanggal lahirnya.

“Makasih makhluk Andromeda!!” Ucap Kaila bahagia

Yah, lagi-lagi hari-hari Kaila bersama Angga pun berakhir bahagia dan para jomblo pun kesel bacanya.

Hari demi hari pun berlalu, Kaila dan Angga pun jadi semakin dekat. Mulai dari datang ke sekolah, ke kantin, mengerjakan tugas, mencari buku di perpustakaan, hingga pulang bersama sudah menjadi rutinitas mereka setiap harinya. Hingga pada suatu hari, Angga mengajak Kaila ke sebuah danau di dekat rumahnya,

“Kai, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” kata Angga dengan hati-hati. “Mau ngomong apa?” kata Kaila tanpa menaruh rasa curiga terhadap pembicaraan.

“Minggu depan aku bakalan pindah” sedih Angga pada Kaila. Kaila terkejut bukan main. “Tapi kan bentar lagi mau ujian, kenapa pindah nya mendadak banget?”.

“Sebenarnya udah lama aku mau bilang ini, ayahku pindah tugas ke Aceh dan katanya bakalan menetap disana. Aku udah bilang ke ayah supaya diundur dulu pindahnya, tapi ga bisa karena waktunya udah mepet” kata Angga.

Sedih?? Oi, kehilangan sahabat satu-satunya bagi Kaila adalah sebuah bencana besar. Kecewa?? Ya, Kaila sangat kecewa karena Angga tidak memberi tahunya sebelumnya. Tapi Kaila bisa apa? Akhirnya ia berusaha tetap tegar walau kini butiran air mata sudah menghujani pipinya.

“Aku gapapa kok Angga. Asalkan kita tetep temenan sejauh apapun kita terpisah, Insya Allah kita bakalan ketemu lagi kok. That’s all about time” Kata Kaila dengan tersedu-sedu.

Jujur, jika Angga bisa memilih, ia akan memilih tetap bersekolah di sini dan terus bisa menemani Kaila. Tapi, Angga tidak bisa berbuat apa-apa. Kini ia harus menghadapi takdirnya, yaitu berpisah dengan Kaila.

Ketika hari itu tiba, hari disaat mereka berdua terakhir bertemu. Kaila dan keluarganya ikut mengantarkan kepergian Angga dan keluarganya. Selesai menurunkan koper, Angga sempat mengajak Kaila untuk foto bersama sebelum berpisah.

“Sebelum aku pergi, aku mau kasih sesuatu sama kamu” bisik Angga. “Apa?” kata Kaila.

“Nih, liat aku beli kalung hati buat kamu. Di dalemnya ada pahatan namaku dan namamu. Semoga benda ini bisa mengobati rindumu padaku ya” kata Angga dengan tetap memberikan seulas senyum walau kini hatinya sedang dilanda gejolak yang luar biasa.

Ketika Kaila membuka kalung tersebut, terukis jelas nama Rangga di sebelah kanannya dan nama Kaila di sebelah kiri. Kaila kini tak kuasa menahan tangis yang sedari tadi berusaha ditahannya. “Ich werde dich vermissen, Angga” kata Kaila yang artinya “Aku akan merindukanmu, Angga”. “Ich werde dich auch vermissen, Kaila” balas Angga yang artinya “Aku akan merindukanmu juga, Kaila” setelah itu, Angga dan Kaila pun berpisah karena sebentar lagi pesawat menuju Aceh akan segera berangkat.

Setelah kepergian Angga, Kaila berusaha semakin giat belajar karena baginya, jika ia terus berusaha untuk memenangkan sebuah pertempuran, maka ia akan mampu menemukan cahayanya kembali. Jadi, jika ia mampu menjadi juara umum lagi lalu mendapatkan beasiswa ke Harvard. Lalu ketika ia sudah berhasil, dia akan kembali menemukan Angganya yang hilang.

Ia juga menjadi anak yang lebih terbuka akan banyak orang sehingga kini ia memiliki banyak teman. Ia sering mengajak teman-teman lainnya untuk diskusi bersama atau hanya sekedar ngobrol bareng.

Setiap kali ia belajar, merangkum, dan mengolah konsep, ia selalu ditemani oleh lagu favoritnya saat ini yaitu Kamu dan segala kenangan Karya Melly Goeslaw dan diaransemen oleh Anto Hoed. Qiyamul lail dan Dhuha pun tak pernah dia lewatkan kecuali diakhiri dengan dzikir dan do’a yang selalu terukir dalam lisannya. Ya, Kaila dilanda rindu yang tampaknya tak pernah berkesudahan.

Hingga ketika ujian nasional tiba, ia mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya ia pun meraih peringkat pertama peraih nilai ujian nasional terbaik se-Indonesia. Ia merasa sangat bahagia apalagi undangan yang ia tunggu-tunggu, Undangan menuju Harvard University telah meluncur ke kotak surat di rumahnya.

“Alhamdulillah Bu, Akhirnya impian Kaila terkabulkan juga.” Ujar Kaila dengan penuh rasa haru

“Alhamdulillah, ibu juga ikutan seneng. Semoga kamu tambah sukses, tambah pinter dan akhirnya bisa membanggakan semua orang” Kata ibu Kaila sambil mengecup lembut puncak kepala putri semata wayangnya itu.

“Bu, apa menurut ibu Angga bisa ketemu lagi sama Kaila?” Tanya Kaila Ragu.

“hmm, Kaila percaya sama janji Allah?” Tanya ibu Kaila

“Ya percaya lah bu” sahut Kaila mantap

“Berarti Kaila harus yakin bahwa keputusan yang Allah ambil adalah keputusan yang terbaik, mau itu Kaila dipertemukan kembali sama Angga atau pun enggak” kata ibu Kaila seraya tersenyum.

“Tapi Kaila rasa Allah ga bakal bolehin Kaila untuk ketemu lagi deh sama Angga” sedih Kaila pada ibunya.

“Kenapa Kaila ngomong gitu?” Tanya Ibu Kaila

“Ya soalnya selama ini Ikhtiar yang Kaila lakukan itu karena makhluk bukan karena Allah” sedih Kaila

“Ya kalau Allah memang masih memberi Kaila kesempatan?? Kaila tunggu aja, insya Allah janji Allah itu ada” Kata ibu Kaila.

6 tahun kemudian…

            Saat itu sedang musim dingin di Berlin , tepatnya pada tanggal 20 Januari 2015. Kaila bekerja di salah satu rumah sakit di Berlin sebagai dokter anak setelah lulus S1 di Harvard University ,ia melanjutkan S2 dan S3 nya di Oxford University .

Saat ini Kaila sedang menangani pasien kecilnya yang terkena demam. “Sepertinya ia harus dirawat bu, demamnya sangat tinggi. Saya khawatir ia terkena demam berdarah” Kata Kaila sedang mendiagnosa pasiennya.

“Tapi kami tidak punya uang, bagaimana akan merawatnya di rumah sakit jika untuk makan saja kami tidak mampu” jelas seorang ibu yang merasa sedih ketika melihat anaknya terkulai lemah di atas ranjang pemeriksaan.

“Baiklah bu, saya akan membantu mengurus semua administrasinya. Intinya secepatnya anak ibu harus diurus keterangan dirawat inap nya.” Jelas Kaila.

“Terima kasih nak, kamu adalah gadis yang baik. Semoga kamu cepat dipertemukan dengan jodohmu ya nak.” Kata sang ibu dengan sangat bahagia.

“Kenapa jadi bahas jodoh sih?” gumam Kaila dalam hati

“Oh iya, saya harus bilang terima kasih pada pemuda baik hati tadi  karena telah mengantarkan kami ke sini.” Kata ibu sang anak dengan terburu-buru. “Biar saya saja yang urus, ibu daftarkan saja anak ibu untuk di rawat inap. Soal administrasi, saya sudah titipkan surat keterangan bahwa perawatan anak ibu akan ditanggung oleh saya” jelas Kaila lagi.

“Terima kasih banyak nak, kamu memang anak yang baik” kata ibu itu seraya berlalu pergi untuk menuju bagian administrasi.

Kaila pun berjalan ke ruang tunggu dan mencari pemuda baik hati yang dimaksud oleh ibu tadi. Seketika ingatannya mengenai Angga datang seolah menghujam kasar dirinya.

“Ah apaan sih, ga mungkin Angga ada di Berlin, jangan mikir yang enggak-enggak deh” . Sesampainya di ruang tunggu, ia melihat seorang pemuda dengan kemeja putih dan jas hitamnya tengah menunggu dengan khawatir.

“Apakah anda yang baru saja mengantar seorang ibu dan anaknya yang sedang sakit tadi??” Tanya Kaila pada pemuda yang terlihat masih sibuk dengan lamunannya.

“Oh.. iya benar, apa mereka baik-baik saja??” Tanya pemuda itu. “Saya menyarankan agar anaknya sebaiknya dirawat di rumah sakit mengingat kondisinya yang sudah buruk” jelas Kaila dan tanpa sengaja menggunakan bahasa Indonesia.

“Orang Indonesia??” Tanya pemuda itu. “Kamu juga?? Subahanallah bisa dipertemukan dengan saudara se-tanah air di negerinya orang lain ini” 

“O iya, kita belum kenalan, Namaku Rangga Arya Purnama, biasa dipanggil Rangga. Kalau kamu??”

Kaila terkejut ,mendengar bahwa pemuda yang sekarang sedang berada dihadapannya adalah Angga, pria yang sudah membuatnya gila selama 6 tahun belakangan ini.

“Masya Allah, ini beneran Angga??” seru Kaila bahagia. “Emang ada apa, eh kamu kok bisa tau nama panggilan saya waktu SMA??” Tanya pemuda yang ternyata Angga.

Buru-buru, Kaila mengeluarkan kalung hati yang sempat Angga berikan di hari perpisahan mereka berdua. “Kaila??” Tanya Angga.

“Ya.. Kaila, Nafisya Kaila Akbar” jawab Kaila yang sedang meneteskan air mata.

Bagai dua saudara kembar yang telah lama terpisah, mereka saling melepas rindu yang kini seluas samudra sedalam Palung Mariana. “Sudah jadi dokter rupanya makhluk mars” kata Angga menggoda Kaila

“Iya donk, masa terus-terusan jadi anak SMA. Angga kemana aja sih selama ini?? Aku tuh kangen sama Angga, Angga juga ga pernah liburan ke rumah” kata Kaila dengan wajah cemberutnya

“Aku lanjutin SMA di pesantren, liburnya bentar-bentar doank. Udah gitu lanjut Kuliah S1 di Mesir terus lanjutin S2 dan S3 di Maroko. Gimana mau main ke rumah kamu??” Jelas Angga

“Ihh apaan sih aku pengen nangis” kata Kaila sambil mengusap bulir air mata yang kini mulai turun membasahi wajahnya yang cantik alami tanpa polesan bedak.

“Nangis aja ntar aku panggil tukang gallon suruh nampung air matanya biar ga habis sia-sia” kata Angga

“IHH GA SMA GA TUA TETEP AJA PENGEN AKU LEMPAR PAKE SEPATU” kata Kaila sebal

“Sei nicht laut!! Dieses Krankenhaus ist kein Markt” Ucap seorang perawat yang artinya “Jangan berisik!! Ini rumah sakit bukan pasar.”

“Hehehe dimarahi terus kita, Tu lah ribut terus” ejek Angga.

“Kalau bukan di rumah sakit, udah aku jadiin ayam penyet kamu tu” Kata Kaila

“Heheheh coba aja kalau bisa” kata Angga seraya menjulurkan lidahnya yang membuat Kaila serasa ingin menyuntiknya.

 Dapat Kaila ketahui bahwa tujuan Angga ke Berlin adalah mencarinya selain daripada menjadi direktur sebuah perusahaan besar.

Benar kata Kaila, jika Allah berkehendak mempertemukan mereka berdua, sejauh apapun jarak memisahkan maka mereka akan bertemu pada saat yang tepat dan tidak di duga-duga. That’s All About Time.

Hari demi hari pun berlalu, tepat pada 16 Juni 2017, Angga resmi melamar Kaila. Dan pada tanggal 15 Agustus 2017, mereka telah resmi menikah dan membangun keluarga indah seperti yang sudah diramalkan oleh Pak Muchtar.

“TAMAT”

Kesimpulan:

“Percayalah kamu sama rahasia Allah, karena skenario paling indah bagi hidup kita adalah skenario yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Ketika kita terjatuh, ingatlah bahwa Allah akan membantu kita untuk bangun kembali. Jika kita kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi, ingatlah bahwa Allah pasti akan ganti dengan yang lebih baik lagi. Dan buat yang sedang merasa berat untuk berpisah, ingatlah kalau Allah bisa saja mempertemukan kalian dengan jalan yang begitu indah. Mengutip kata-kata Kaila, That’s All About Time.”

Itu dia tadi cerpen karya saya. Like jika kalian suka dan kalau punya saran tentang aku bikin apa lagi selanjutnya silahkan comment dibawah.

Sekian, Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”

Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Satu tanggapan untuk “Cerpen Pertama”

Tinggalkan komentar