Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hy semua.. Apa kabar nih?? Pada sehat semua kan? kalau iya Alhamdulillah, kalau ada dari temen-temen semua yang lagi sakit Kaylie do’ain deh semoga cepet sembuh. Aamiin..
Hehehe, sebenernya lagi sering upload juga karena sekalian mau bikin tugas Agama and jadinya keinget pengen post juga. Trus Kaylie juga mau minta maaf ya kalau ntar setelah ini ada kemungkinan aku jarang post, soalnya kan udah kelas 9 jadi bakal banyak try out dan bikin Kaylie jadi musti fokus belajar. So I’m very sorry guys
Jadi kali ini Kaylie mau upload cerpen lagi. Sebelumnya Kaylie juga sempet upload https://kaylieinfo1717.data.blog/2020/01/25/cerpen/.
So.. cerpen kali ini bertema tentang persahabatan antara Dika dan Dea. Wah gimana ya ceritanya? Endingnya gimana sih? Yuk langsung aja kita simak cerpennya.
“SAHABAT YANG HILANG”
Awan hitam mulai menutupi langit yang cerah, pertanda bumi yang tandus akan basah oleh tangisannya. Dan benar saja, tetesan air turun dengan derasnya. Kata orang itu namanya hujan.
Aku yang dikala itu sedang mengerjakan tugas latihan seketika termenung. ”Langit begitu gelap, bagaimana aku akan pulang?” Tanyaku yang kala itu kebingungan.
“Hei tenanglah, aku akan selalu disini bersamamu.” Kata Dika menenangkan ku. Memang, Dika adalah sahabat baikku. Kami mulai berteman sejak SD.
“Oi, jangan melamun aja, kerjakan tugasmu itu. Nanti jika tugasmu sudah menumpuk pasti minta bantuan ku lagi. Aku kan juga punya banyak tugas.” Kata-kata Dika menyadarkanku atas lamunanku.
Benar kata Dika, aku memang tipe orang yang bisa dibilang termasuk pintar. Hanya saja aku itu lebih malas dibandingkan kebanyakan manusia dan cenderung bergantung pada orang lain. Oleh karena itu, tak seorang pun teman dikelasku yang mau menjadi temanku. Hanya Dika, seorang sahabat yang rela menemaniku dikala susah dan senang. Aku tidak tau apa yang menyebabkan Dika suka berteman denganku. Tapi sudahlah, itu urusan dia dengan tuhannya,
Bel sekolah pun berbunyi, tanda jam pelajaran berakhir. Aku yang selalu pulang dengan Dika pun menunggu di gerbang sekolah sebab Dika harus terlebih dahulu mengambil sepedanya yang ia parkirkan sedikit lebih jauh dari sekolah. Dia bilang dia takut sepedanya dicuri orang. Padahal siapa yang mau mengambil sepeda tua seperti itu?.
“Hei anak pemalas, ayo. Nanti ibumu marah lagi lo” Teriak Dika dari kejauhan.
“ Iya, sebentar..” Aku berlari tergesa-gesa sambil merapikan buku ditasku yang tadi sempat ku keluarkan untuk ku baca.
“Aduh!” suara itu pun mengagetkan ku, “Bu Siska, maaf saya tidak sengaja” Kataku dengan nada penyesalan. Aku berharap dia tidak marah, sebab aku sudah dua kali membuat kesalahan padanya. Dan yang ketiga adalah panggilan orang tua. Batinku mulai berguncang. “Apakah ia akan marah?” tanyaku dalam hati.
“Makanya lain kali hati-hati. Ya sudah kamu pulang sekarang sebelum saya mencatat nama kamu” kata Bu Siska dengan nada ketusnya. Aku merasa sangat lega, aku bersyukur Bu Siska tidak jadi marah. Aku tidak dapat membayangkan apabila dia marah lalu memanggil orang tuaku.
“Hmm.. pake menung lagi, ayolah… nanti ban sepedaku kempes karena telalu lama menunggu mu.” Kata Dika sembari meledek wajah pucatku. “ Awas saja kamu Dika, nati akan aku balas!”
Sesampainya di rumah. Aku langsung ganti baju, makan, tidur siang, lalu mengerjakan tugas. Setelah tugas-tugasku selesai, aku mempunyai kebiasaan membaca komik-komik kecil yang kugunting dari surat kabar di sekolahku. Aku biasa meminta Koran pada Pak Dhe penjaga sekolahku. Lalu menggunting bagian komiknya, setelah itu mengumpulkan kertas koran yang kemudian akan kujual pada tukang sampah. Namun pada saat aku hendak mengumpulkan kertas Koran itu, ada sebuah amplop kecil berwarna biru teselip didalamnya.
“Waaah.. ada amplop. Jangan-jangan isinya ada peta harta karun, buka ah!!” Gumamku yang sudah tak sabar untuk melihat isinya, tapi aku kecewa karena isinya adalah:
Aku bener-bener kesal pada saat itu, “ Ini pasti ulahnya Dika yang selalu menyelipkan note daftar tugas dibalik barang-barangku”.
Aku tidak tahu kenapa Dika serajin itu. Setiap minggu Dika selalu memberi catatan tugas untuk satu minggu yang belum ku kerjakan. Aku sangat teramat kesal dengan sikapnya itu. Dan kali ini aku sudah mulai tidak tahan dengan kelakuannya.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah lebih awal. Aku sengaja melakukan hal itu agar tidak lagi diantar olehnya. Saat itu, ketika bel masuk hendak berbunyi, lalu Dika datang menghampiriku.
“Hai Dea, tumben berangkat lebih cepat? Ada apa?” Tanya Dika dengan nada candanya.
“Dengar ya Dika, aku memang selalu memintamu untuk membantuku, tapi aku tak pernah sekalipun memintamu untuk mengurusi hidupku. Jadi, berhentilah bersikap kamu seolah-olah kamu adalah temanku. Karena, aku tak lagi mengaggap dirimu sebagai teman!” Kataku seraya meluapkan rasa kesal ku pada Dika.
Entahlah, semenjak kejadian itu aku merasa Dika berubah. Dika jadi lebih tetutup dan seolah-olah menutup diri dari orang lain. Aduh, Aku khawatir ada hal buruk yang akan terjadi padanya jika aku tak segera mencoba minta maaf padanya.
Akhirnya aku pun memutuskan untuk mengajaknya bertemu di Kantin saat bel pulang. Suasana menjadi hening ketika aku bertemu dengannya. Sampai akhirnya aku pun memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
“Dika, aku minta maaf ya soal yang kemarin. Soalnya..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Dika pun memotong pembicaraan
“Iya aku tahu, aku juga salah kok karena selama ini aku sadar kalau aku terlalu memaksamu melakukan apa yang kuminta. Jadi tolong maafkan aku ya..” Kata Dika dengan senyum tipisnya.
Entah mengapa, pada saat itu air mataku mengalir dan aku lantas memeluknya. “Iya, aku pasti maafin Dika kok. Dika itu segalanya, tidak ada satu pun teman dikelasku yang mau berteman denganku, tapi Dika malah sebaliknya. Dika jangan tinggalin Dea lagi ya.. nanti Dea merasa sangat kesepian, karena…” lagi-lagi Dika memotong pembicaraanku seraya mengusap lembut rambutku.
“Dea jangan nangis lagi ya… Dika itu sayaaaang banget sama Dea. Dika udah anggap Dea kayak adik Dika sendiri karena Dika gak punya adik” kata Dika. Aku tau pada saat itu Dika juga ikut menangis, tapi aku tak mau merusak momen yang indah itu.
Aku dan Dika pun kembali pulang bersama. Seperti biasa, Dika akan mengambil sepedanya lalu menjemputku di gerbang sekolah. Tapi aku merasa cemas pada Dika.
“Kenapa aku jadi was-was begini ya? Mungkin perasaanku saja.” Tidak lama kemudian, Dika pun datang dengan mengendarai sepedanya. Ia terlihat begitu bahagia hingga tak memperhatikan jalannya lagi. Pada saat yang sama, aku pun melihat mobil tronton melaju tepat dibelakang Dika.
“Dika awas!” tetapi Dika seolah-olah tak menghiraukan perkataanku. Celaka! Mobil itu menghantam sepeda Dika dan akhirnya tubuhnya pun terhempas jauh dari sepedanya.
“Dika kamu gak apa-apa? Aku cari bantuan ya!” aku yang pada saat itu panik pun segera mengambil tindakan untuk mencari bantuan.
Tapi dengan sigap Dika menarik tanganku seraya berkata “Jangan Dea, aku gak perlu bantuan, aku bakalan pergi untuk selamanya. Kamu jaga diri baik-baik ya.. Uhuk.. uhk.. jangan lupa ngerjain PR. Aku bakalan uhk.. ngawasin kamu dari sana. Laa.. ilaha.. illallah..” Dika menghembuskan nafas terakhirnya.
“Dika, Pliss Dika kamu gak boleh pergi. Kan kamu udah janji sama aku Dika. Dika aku mohon Dika..”
Bulan dan bintang jadi saksi abadi
Tetesan embun dihelai bunga melati
Puisi cinta yang pernah kau ucapkan
Tapi tetap tersimpan
Walau mungkinTelah kau lupakan
Musim kemusim datang silih berganti
Hari demi hari penantian tak pasti
Impian indah musnahlah sudah
Kini melati yang indah
Tertutup rimbun ilalang
Hingga hari ini bahkan detik ini aku terus menangisi kepergian Dika. Memang mataku tak menangis, tapi hatiku teus menjerit meneriakkan namanya dan memintanya untuk kembali. Dan kini aku tau, tak ada yang baik dari sifat malas. Itu hanya keindahan semata, namun akan berakhir buruk dan menyebabkan penyesalan. Dan dari Dika, aku tahu bahwa persahabatan tak hanya tentang sebuah kata. Tapi persahabatan adalah sebuah janji yang telah diucapkan oleh seseorang lalu akan menjadi abadi hingga akhir hayatnya. Dan kini, aku tak lagi mampu memandang Dika. Tapi aku yakin, Dika selalu ada disisiku kapan saja dan dimana saja. Dika, aku ingin kamu tahu bahwa aku merindukanmu.
TAMAT
Amanat dari cerita ini adalah:
“Jangan sia-siakan apa yang kamu punya dalam hidup ini, karena kamu ga bakal tau kapan Allah bakal ngerebut hal itu dari dirimu. Dan hargailah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diulang bagaimana pun caranya.”
OK teman-teman, gimana? Bagus gak ceritanya? Kalau kalian suka jangan lupa like ya.. Dan kalau kalian punya saran silahkan coment dibawah.
Sekian dulu, Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
“If I’d had some set idea of a finish line, don’t you think I would have crossed it years ago?”
Bill Gates

