Sastra

Sajak Asmara Nomor 03

Dia

Kepada kamu, sang pangeran malamku
Yang datang dikala diri ini pulas tertidur
Malamku sunyi tanpa hadirmu
Siangku hampa tanpa senyummu
Diam, bibir ini kelu tuk kembali berkata
Kagumku pada garis wajah itu
Mata teduhnya yang menyipit kala senja menerpa
Lesung pipinya yang berseri kala terkena siraman fajar
Hening, tubuhku hanyut pada eloknya pesonamu
Menatap indah tubuh jakungmu
Yang kuyakin kan bersiap hilang
Bersembunyi dibalik rumitnya luka masa lampau

OK, mungkin ini sedikit bersifat deskriptif, yaitu tentang anak manusia yang sedang dicintai oleh seorang pejuang sajak gila. Ya, pejuang sajak memang tidaklah sesempurna apa yang kalian bayangkan. Tetapi pejuang sajak mampu menyempurnakan segala sesuatu melalui kata-katanya tanpa bermaksud mencampuri urusan Tuhan, yang dengan kata lain mereka menyempurnakan melalui sebuah pujian indah yang dirangkai membentuk berlembar-lembar usang yang nantinya dikemudian hari akan diceritakan mulut-kemulut oleh jutaan ummat.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Q.S. Al-Baqarah/2 :216

Tinggalkan komentar