Dia
Kepada kamu, sang pangeran malamku Yang datang dikala diri ini pulas tertidur Malamku sunyi tanpa hadirmu Siangku hampa tanpa senyummu
Diam, bibir ini kelu tuk kembali berkata Kagumku pada garis wajah itu Mata teduhnya yang menyipit kala senja menerpa Lesung pipinya yang berseri kala terkena siraman fajar
Hening, tubuhku hanyut pada eloknya pesonamu Menatap indah tubuh jakungmu Yang kuyakin kan bersiap hilang Bersembunyi dibalik rumitnya luka masa lampau
OK, mungkin ini sedikit bersifat deskriptif, yaitu tentang anak manusia yang sedang dicintai oleh seorang pejuang sajak gila. Ya, pejuang sajak memang tidaklah sesempurna apa yang kalian bayangkan. Tetapi pejuang sajak mampu menyempurnakan segala sesuatu melalui kata-katanya tanpa bermaksud mencampuri urusan Tuhan, yang dengan kata lain mereka menyempurnakan melalui sebuah pujian indah yang dirangkai membentuk berlembar-lembar usang yang nantinya dikemudian hari akan diceritakan mulut-kemulut oleh jutaan ummat.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Q.S. Al-Baqarah/2 :216
